Tampilkan postingan dengan label Jatim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jatim. Tampilkan semua postingan

Surabaya-Kendala aspek nonfisik dari trotoar adalah mental dari masyarakat, yang mempunyai habit yang buruk dalam berjalan kaki maupun penyalahgunaan trotoar. Oleh karena itu penting bagi Pemkot untuk memperbaiki sarana dan prasarana, memberikan kampanye positif dan sosialisasi serta pelaksanaan peraturan sesuai dengan Pasal 131 ayat (1) UU LLAJ, Pasal 25 ayat (1) huruf h UU LLAJ dan Pasal 28 ayat (2) UU LLAJ  dalam menggunakan trotoar harus terus di lakukan, sehingga masyarakat gemar dan tertib dalam menggunakan trotoar. Mengembalikan trotoar sebagaimana mestinya dan sesuai fungsinya, sama dengan halnya mengembalikan hak dan melindungi pejalan kaki.

Kendala aspek nonfisik dapat dipengaruhi oleh oprasional angkutan umum yang buruk, dimana angkot dapat berhenti sekehendak hati, juga transportasi masal yang tidak terintegrasi satu dengan yang lain dan tidak adanya parkir komunal untuk kendaraan pribadi yang beralih ke kendaraan umum, sehingga menimbulkan kekacauan dalam transportasi serta dampaknya, yang nantinya berimbas kepada pejalan kaki. Masyarakat juga menginginkan adanya transportasi yang nyaman, aman dan tertib sehingga fungsi transportasi dan trotoar benar-benar terintegrasi, hal itu mungkin dapat dilakukan dengan baik apabila Pemkot memfasilitasi moda transportasi yang dikelola suatu badan hukum. Namun yang kerap terjadi dilapangan dan kota-kota Indonesia adalah masalah kepemilikan angkot, angkot kepemilikannya biasanya lebih ke pribadi, inilah yang menjadi sebab mengapa transportasi khususnya angkot jauh dari transportasi yang nyaman, aman dan tertib sehingga berimbas kepada pejalan kaki. Padahal UU No. 22 tahun 2009, angkutan umum itu harus dikelola suatu badan hukum. Oleh karena itu butuh tindakkan tegas Pemkot dalam mengatur masalah ini sehingga habit yang buruk dalam masyarakat dalam aspek non fisik dapat diminimalisir.

Akibat dari semrawutnya sistem dan ketidaknyamanan menggunakan transportasi angkutan umum, maka permasalahan yang timbul adalah meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi, volume kendaraan, seperti motor dan mobil dijalan, sehingga sudah dapat ditebak kemacetan tidak dapat dihindari. Disamping itu tidak adanya parkir komunal dan sistem transportasi yang tidak terintegrasi, menyumbang banyak permasalahan keadaan yang terjadi di jalan raya, dan muaranya adalah hak pejalan kakipun dirampas karena dampak macet membuat motor menggunakan media trotoar sebagai jalan pintas, pejalan kaki tidak lagi mentaati aturan-aturan yang ada dalam menggunakan trotoar karena dampak dari sistem transportasi yang salah dan masih banyak lagi.

Aspek nonfisik lain adalah Pemkot harus benar-benar ketat dalam menerapkan peraturan, khususnya bagi PKL (Pedagang Kaki Lima), Gepeng (Gelandangan dan Pengemis) dan Parkir liar. Dihampir seluruh kota-kota di Indonesia tidak bisa mengelak akan permasalahan ini. Bahkan hal tersebut terjadi tidak hanya dalam hitungan bulan, namun menahun bahkan puluhan tahun, hingga bangunan semi permanen sampai bangunan permanen, lahan parkir yang liar hingga lahan " parkir berlangganan". Juga masalah keberadaan Gepeng yang "terkadang" membuat was-was pejalan kaki. Pemkot bekerjasama dengan Polisi maupun Satpol PP untuk menuntaskan permasalahan ini, sehingga ketertiban dalam menggunakan trotoar dapat diwujudkan.
Mewujudkan trotoar yang ideal bukan tidak mungkin terjadi, semuanya itu dapat terwujud apabila Pemkot tegas menerapkan Peraturan yang telah ada dan membenahi sarana dan prasarana  baik trotoar dan moda transportasi masal dengan baik.

Surabaya-Dalam aspek Fisik masalah yang serius kerap ditemui trotoar di kota-kota Indonesia adalah pemeliharaan trotoar, sehingga trotoar bukan menjadi jalan yang aman dilalui oleh pejalan kaki, namun justru menjadi ancaman bagi pejalan kaki itu sendiri. Pemeliharaan inilah yang kerap disepelekan dan dilalaikan oleh Pemkot maupun Pemda, trotoar dibiarkan digali untuk keperluan listrik mapuan selokkan, namun tidak dikondisikan kembali seperti semula. Terlebih memprihatinkan adalah banyak ditemui adalah trotoar tekadang dibiarkan rusak dan menganga dalam jangka waktu yang lama, bisa hitungan bulan bahkan tahunan, hal tersebut sangat mengacam keselamatan para pejalan kaki khususnya para kaum difabel.

Perlindungan terhadap hak pejalan kaki menemui kendala dan jauh dari rasa aman di Indonesia, tidak hanya dari pihak Pemkot, namun juga datang dari BUMN dan bisa juga dari Perusahaan Swasta atau pihak berkepentingan lainnya, yang tidak menjaga trotoar dan menyalahgunakan trotoar demi kepentingan golongan, oleh karena itu perlu adanya perlindungan hukum kepada pejalan kaki agar terlindungi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Surabaya- Aspek fisik merupakan hal yang terpenting, oleh karena itu standarisasi nasional dalam pembuatan trotoar di Indonesia harus menjadi tolak ukur yang tidak bisa ditawar lagi dalam pelaksanaan pembangunan, sehingga hak pejalan kaki benar-benar terperhatikan, tidak hanya itu penerapanpun harus benar-benar dilakukan oleh Pemkot atau Pemda setempat di seluruh kota maupun wilayah penjuru Indonesia, adapun formulasi standar yang penulis maksud dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Luas dan lebar trotoar
  2. Konstruksi trotoar
  3. Tipikal trotoar
  4. Dimensi trotoar
  5. Penempatan trotoar
Apabila aspek fisik benar-benar diaplikasikan secara ketat baik oleh Pemkot maupun Pemda dalam pelaksanaan di lapangan, maka masyarakat benar-benar merasakan kenyamanan dalam berjalan kaki. Disisi lain konstruksi yang kokoh akan trotoar, akan menghemat anggaran biaya pemeliharaan Pemkot.



Surabaya- Permasalahan trotoar begitu komleks, pada trotoar yang bersih, lebar dan baik sekalipun belum menjadi solusi dalam memecahkan masalah trotoar. Trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki malah sepi dari pejalan kaki, bahkan beralih fungsi menjadi tempat parkir kendaraan, baik yang terorganisir maupun yang individu.

Beberapa kejadian yang miris dengan trotoar kerap terjadi di beberapa kota di Indonesia, penggalian kabel dan tidak adanya standarisasi pembangunan trotoar menjadi kendala tersendiri, hal tersebut mengancam keamanan pejalan kaki namun hal tersebut kerab dilalaikan oleh Pemkot

Menurut observasi penulis setidaknya permasalahan trotoar di Indonesia terdapat 2 aspek, aspek yang pertama ialah teknis dan yang kedua nonteknis. Pertama penulis akan mengulas permasalahan trotoar dari segi teknis, adapun lingkup yang dibahas antara lain sebagai berikut:


  1. Fisik, secara fisik terkadang trotoar kurang memenuhi syarat atau kaidah standarisasi untuk pejalan kaki. Tidak adanya standar dalam proyek pengerjaan trotoar menjadikan fisik trotoar tidak sempurna dan kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Ditambah lagi dengan adanya proyek fisik lainnya yang berhubungan dengan transportasi, seperti halte. Alih-alih untuk pejalan kaki, namun justru menyulitkan pejalan kaki itu sendiri, dan pejalan kaki jauh dari aman  sama sekali. Jika ditinjau dari segi hukum, hak pejalan kaki diberikan perlindungan dan prioritas, antara lain sebagai berikut, terdapat di UU no.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, di pasal 13: 1) Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain. 2) Pejalan Kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang Jalan di tempat penyeberangan. Jadi jelas, pembangunan fisik trotoar kerap tidak diperhatikan ataupun dilanggar oleh Pemkot dan Pemda setempat, adapun contoh gambar adalah sebagai berikut

           


Surabaya- Sebagai kota yang berkembang pesat baik dari segi ekonomi maupun infrastruktur, tidak lengkap rasanya apabila Surabaya tidak menjadi tujuan wisata. Surabaya selain dikenal sebagai kota Pahlawan, kota yang memiliki luas wilayah 374,8 km² ini juga dikenal sebagai Kota Taman. Mengusung semangat Kota Taman, maka Surabaya lebih lengkap rasanya apabila terdapat tema taman, salah satunya seperti Fantasy Theme Park. Taman bertema Fantasy selain sebagai wisata keluarga juga bermanfaat menstimulasi dan mengembangkan kreatifitas pengunjung khususnya anak-anak melalui nyatanya dunia hayalan. Salah satu theme park diluar negeri yaitu  di London Inggris yang mengusung konsep Film Harry Potter, dimana imajinasi sebuah dunia sihir benar-benar dihadirkan di dunia nyata. Dengan perpaduan konsep outdoor  dan indoor yang baik, maka tidak mustahil theme park dapat menjadi destinasi wisata yang unik serta wajib dikunjungi oleh wisatawan.

Menurut penulis, Pemkot harus proaktif dalam mengembangkan wilayah surabaya melalui potensi wisata dan menawarkan kebijakkan yang menarik bagi investor untuk membuat Fantasy Theme Park di Surabaya. Meski di Surabaya terdapat Kenjeran Park (Kenpark) yang mengadopsi theme park Universal Studio Singapura (USS), bukan suratu halangan untuk Pemkot Surabaya terus menggalakkan tiap-tiap wilayahnya sebagai destinasi wisata. Berikut adalah beberapa view dari theme park yang bertema fantasy yang diusung dari Film Harry Potter





Harapan untuk Kota Surabaya menjadi destinasi wisata sangatlah besar, sebab Pemkot gencar dalam menjadikan Ibu Kota Jawa Timur ini menjadi kota tujuan wisata. Dengan pelbagai potensi yang terdapat didalam kota, baik Pantai, Taman dan termasuk juga Sungai dapat dijadikan alternatif wisata bila ditangani secara serius oleh Pemkot Surabaya. Sebagai wujud kepedulian penulis terhadap konsep Surabaya menjadi kota wisata, terutama pada sungai, maka penulis membuat sketsa sungai seperti sungai Cheonggyecheon Korea namun dengan desain khas Surabaya dan Jawa Timur (Seperti Gambar Diatas). Dengan dieksplornya potensi sungai tersebut, maka wajah Kota Surabaya akan menjadi jauh lebih indah, baik untuk melepas kepenatan warga Surabaya, sekaligus para generasi muda dapat belajar mengenai kesejarahan Bangsa lewat dinding-dinding sungai.

Setiap beberapa jarak tertentu, dinding sungai mencerminkan bangunan khas suatu daerah di Indonesia, atau juga dapat beberapa patung yang menggambarkan peristiwa-peristiwa penting seperti 10 November. Beberapa wilayah sungai juga dapat dihiasi tanaman hias dan rerumputan, sehingga menampilkan kesan alami dan hijau disepanjang sungai dan desain modern minimalis saat berada di wilayah CBD atau sebaliknya. Meski letak sungai berada di kota, namun desain sungai dapat menampilkan suasana alam seperti di pegunungan yang membawa kesejukkan. Pedestrian way berada di sisi kanan dan kiri sungai, tujuannya jelas agar pemandangan tersebut dapat langsung dinikmati masyarakat.

Tentu penataan serta konsep harus matang, sehingga pengerjaan proyek tidak terkesan asal-asalan. Setidaknya Surabaya menjadi kota yang nyaman bagi masyarakat disemua kalangan, yang tidak hanya untuk kawasan komersil dengan dihiasi oleh hutan beton belaka. Bila Pemkot merealisasikan konsep ini maka tidak hanya menjadi wisata alternatif kebanggaan warga Surabaya saja, namun juga daerah-daerah di Jawa Timur dan menarik wisata manca negara. Berikut adalah Gambar Sungai Cheonggyecheon Korea




Surabaya- Pedagang kaki lima banyak sekali ditemui di kota-kota besar di Indonesia, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkot Surabaya dalam membuat wajah Surabaya kian rapi dan bersih. La Rambla de Barcelona menjadi konsep landscape pembelajaran terpenting bagi Kota Surabaya dalam menciptakan wisata, sekaligus dalam mengelola roda perekonomian, dengan mencakup ekonomi kelas bawah hingga atas, turis lokal maupun manca negara dan juga mempertemukan para pembisnis makanan,bunga dan buah hingga pembisnis jasa melalui kesenian dan lain-lain. La Rambla de Barcelona adalah sebuah konsep pedestrian mall way, yang membentang 1,2 kilometer (0,75 mil) yang menghubungkan Plaça de Catalunya di pusat dengan Monumen Christopher Columbus di Port Vell. La Rambla membentuk batas antara penjuru Barri Gòtic, ke timur, dan El Raval, ke barat. Menariknya dari Rambla de Barcelona adalah sepanjang jalur tersebut dikhususkan untuk pejalan kaki dan menjadi sorga pejalan kaki, tidak hanya itu, diujung pedestrian mall way terdapat pantai yang indah dan tertata rapi, sungguh memanjakan mata.



Meski letaknya berada di kota besar, namun La Rambla de Barcelona jauh dari polusi serta hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang lalu lalang. Sepanjang jalur tersebut menyediakan pemandangan ala little italia, gedung -gedung kuno atau klasik yang  berjajar disepanjang jalan tersebut menyediakan  aneka kebutuhan, juga pola-pola lantai keramik yang bagus serta variatif melengkapi atmosfir  Rambla de Barcelona menjadi lebih menarik. Penanaman pohon-pohon rindang disepanjang jalan dikedua sisinya menjadikan tempat tersebut teduh, meski kondisi cuaca siang hari serta selokkan yang berada di bawah pedestrian way tersebut mencegah terjadinya genangan air di sepanjang La Rambla de Barcelona. Tersedianya fasilitas umum seperti  tempat duduk, tempat sampah dan lampu-lampu jalan bergaya klasik membuat pejalan kaki kian nyaman berada di tempat tersebut, baik Pagi, Siang maupun pada Malam hari.

Mewujudkan Mimpi Tempat Berkumpulnya Usaha Kecil-Menengah-Atas Surabaya memang tidaklah mudah, namun mewujudkan mimpi tersebut bukanlah hal yang mustahil. Selain menjadi tempat berkumpulnya usaha, keberadaan tempat tersebut di Surabaya juga dapat menjadi destinasi wisata.Tidak hanya untuk kepentingan ekonomi semata namun juga sebagai  alternatif "wisata" kebanggaan kota Surabaya. Bandung adalah salah satu kota di Indonesia yang telah meniru konsep ini dalam skala kecil, kini giliran Surabaya yang harus berbenah dan unjuk gigi. Berikut gambar kawasan jalan dalem kaum Bandung yang mirip dengan konsep  La Rambla de Barcelona 





Surabaya- Kota yang terletak 07 derajat 9 menit - 07 derajat 21 menit LS (Lintang Selatan) dan 112 derajat 36 menit - 112 derajat 54 menit BT (Bujur Timur) dengan Temperatur rata-rata minimum 23,6 °C dan maksimum 33,8 °C menjadikan kota Pahlawan cukup terik pada saat musim kemarau di siang hari. Kondisi terik ditambah dengan polusi udara asap kendaraan bermotor yang menjadikan pengendara semakin tidak nyaman berada dijalanan Surabaya. Pemotor terkadang tidak segan-segan berada tepat di zona Zebra Cross yang notabennya adalah tempat penyebrangan pejalan kaki dengan letaknya yang berada sedikit didepan Traffic Light, hal tersebut jelas melanggar peraturan dan membuat pejalan kaki tidak nyaman dengan keberadaan pemotor yang menjadi penghalang pejalan kaki. Kondisi tersebut diperparah dengan kejadian yang senada terus berulang-ulang, sehingga kerap pejalan kaki "merasa diabaikan" meski  Zebra Cross didepan Traffic Light diperuntukkan khusus bagi mereka. Gambar dibawah adalah ilustrasi bagaimana kebiasaan pengendara yang berhenti tepat diatas Zebra Cross didepan Traffic Light



Penulis memperhatikan bagaimana kebiasaan pemotor melakukan hal tersebut, inilah alasan sehingga mendorong penulis untuk menuliskan postingan ini sebagai masukkan bagi Pemkot Surabaya. Masukkan penulis yaitu Pemkot Surabaya harus meningkatkan penghijauan, khususnya penanaman pohon rindang disetiap kawasan Traffic Light. Alasan tersebut cukup realistis, kondisi panas terik menjadikan pemotor ingin cepat-cepat menyelesaikan perjalanan mereka, namun tanpa sadar pemotor melanggar peraturan jalan raya yaitu dengan berhenti diatas Zebra Cross yang terletak didepan Traffic Light, tidak hanya itu, tidak jarang pemotor berhenti mencari tempat-tempat teduh untuk menghindari paparan sinar matahari meski posisi pemotor dijalur yang tidak semestinya.

Penulis berharap agar Pemkot Surabaya tidak mengabaikan pentingnya peran pepohonan di Traffic Light, Pemkot harus terus menggiatkan dan  merealisasikan penghijauan, yaitu dengan menggalakkan penanaman pohon rindang, khususnya di kawasan Traffic Light, dimana kendaraan berhenti dan menunggu giliran dalam menggunakan jalan raya. Berikut ini adalah  gambar Pemotor dan Pengendara mobil yang tertib saat berada di Traffic Light saat siang hari dengan pepohonan yang meneduhkan Pengendara mobil dan motor.








Promosi wisata Jawa Timur belum dioptimalkan dengan baik, tempat-tempat wisata di Jawa Timur masih banyak yang belum dikenal, baik oleh turis lokal maupun oleh turis mancanegara. Tidak cukup mengandalkan internet dan pusat informasi wisata, namun secara masif Pemkot Surabaya dan Jatim harus bekerjasama dalam mengoptimalkan promosi tempat-tempat wisata, baik itu wisata kota maupun wisata alam. Adapun tempat-tempat atau wilayah publik yang strategis dimana mungkin untuk dijadikan sarana promosi wisata yaitu Bandara, Terminal dan Stasiun, dan tempat publik lain seperti pedestrian CBD (central business district), tempat-tempat tersebut adalah pusat aktivitas bisnis sekaligus transportasi sehingga melalui layanan promosi tersebut diharapkan mampu meningkatkan roda perekonomian di Wilayah Ssurabaya dan  Propinsi Jawa Timur.

Penulis berharap Pemkot Surabaya dan Pemprof Jawa Timur dapat bersinergi meningkatkan kerjasama dengan para pelukis, budayawan dan fotografi daerah untuk  memperkenalkan wisata Jawa Timur umumnya dan kota Surabaya khususnya lewat karya-karya mereka, sebagai alternatif lain Pemkot Surabaya dapat memberikan kebijakan melalui VideoTron sebagai sarana promosi tempat-tempat wisata, sehingga melalui upaya tersebut diharapkan baik kepada wisatawan dalam negeri dan manca negara akan tertarik untuk mengenal dan mengunjungi wajah Surabaya dan Jawatimur yang indah.