Tampilkan postingan dengan label Kitab Jomblo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Jomblo. Tampilkan semua postingan


Jomblo Pengalaman Hidup: seorang yang tidak tidak punya kekasih yang disebabkan oleh pengalaman hidup yang kurang menyenangkan, baik pengalaman pribadinya maupun pengalaman terhadap orang lain. Penjelasan lanjut dari jomblo pengalaman hidup ialah seorang yang pernah menjalin hubungan kasih dengan seseorang, namun menuai kegagalan, entah itu mempunyai kegagalan sekali maupun berkali-kali, oleh karena gagalnya pengalaman hidup memadu kasih terhadap orang lain itulah yang menjadi pokok pembahasan ini. Pengertian pengalaman sendiri adalah yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung, dan sebagainya).[1] Traumatis yang sangat berat gagalnya menjalin hubungan asmara dengan orang lain dapat menimbulkan gangguan kejiwaan yang berat pula, yang pada akhirnya menyangkut masalah psikis, jomblo pengalaman hidup (level berat) sesungguhnya saling berkaitan erat dengan kategori jomblo prinsip, jomblo psikis dan jomblo fisik. Berikut adalah penjelasan dari psikoterapis.com  pada kategori pengalaman hidup (level berat) pada kasus masa dewasa muda.

Masa dewasa muda, seorang yang melalui masa-masa sebelumnya dengan aman dan bahagia akan cukup memiliki kesanggupan dan kepercayaan diri dan umumnya ia akan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan pada masa ini. Sebaliknya yang mengalami banyak gangguan pada masa sebelumnya, bila mengalami masalah pada masa ini mungkin akan mengalami gangguan-gangguan jiwa. Masalahmasalah yang penting pada masa ini adalah :
  • Hubungan dengan lawan jenis. Masa ini dimulai dari masa pacaran, menikah dan menjadi orang tua beberapa faktor yang mungkin menyulitkan suatu perkawinan
  • Perasaan takut dan bersalah mengenai perkawinan dan kehamilan
  • Perasaan takut untuk berperan sebagai orang tua ketidak sanggupan mempunyaai anak
  • Perbedaan harapan akan berperan masing-masing (tak ada penyesuaian baru dalam tingkah laku atau berpikir)
  • Masalah-masalah keuangan
  • Gangguan-gangguan dari keluarga
  • Pemilihan dan penyesuaian pekerjaan
  • Pekerjaan sebaiknya dipilih berdasar bakat dan minat sendiri pemilihan yang semata-mata dipaksa atau disuruh atau kompensasi atau karena “kesempatan dan kemudahan” sering mempermudah gangguan penyesuaian dalam pekerjaan. Gangguan berupa rasa malas, sering bolos, timbul bermacam keluhan jasmani (sering sakit) sering mengalami kecelakaan dalam pekerjaan dan terlihat ketegangan-ketegangan dalam keluarga karena jadi pemarah dan mudah tersinggung. [2]
Seorang Jomblo karena pengalaman hidup, ia semakin berhati-hati dalam menaruh hati sekaligus ia sangat berhati-hati dalam menjalin kasih sekalipun ia adalah seorang yang supel. Kriterianya cukup banyak, namun semuanya dilakukan bukan berdasarkan keegoisannya, namun karena ia tidak ingin menyakiti diri sendiri dan mengulangi kegagalan yang sama. Kecenderungan sikap seperti ini juga diikuti dengan perasaan yang kuat dengan goal terakhir dalam hidupnya, yaitu pernikahan, oleh karena itu jomblo pengalaman hidup senantiasa berpikir berulangkali dalam memutuskan hal yang terpenting dalam hidup mereka, yaitu pernikahan.




Jomblo Keadaan Fisik: Seorang yang tidak tidak punya kekasih (belum mempunyai pengalaman asmara dengan orang lain sama sekali) disebabkan oleh faktor fisik. Pribadi yang termasuk kategori jomblo keadaan fisik ialah karena faktor sakit, kondisi tubuh lemah dan seterusnya. Jomblo keadaan fisik disebabkan adanya faktor kondisi fisik yang membuat seseorang memutuskan untuk menjomblo. Namun jomblo keadaan fisik kerap terpuruk dalam keadaannya dan tidak mau merubah diri dari pola kehidupannya, kondisi fisik dipengaruhi oleh aktivitas fisik seseorang, sebab kondisi fisik seseorang bergantung bagaimana pola hidup atau aktivitas fisik seseorang. Antara kondisi fisik dan mental atau kejiwaan dapat saling mempengaruhi. Kesehatan fisik yang buruk dapat menyebabkan peningkatan risiko perkembangan masalah kesehatan mental. Demikian pula, kesehatan mental yang buruk negatif dapat berdampak pada kesehatan fisik, yang menyebabkan peningkatan risiko beberapa kondisi. Depresi[1] telah dikaitkan dengan:
  • 67% peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung
  • 50% peningkatan risiko kematian akibat kanker.
Sementara skizofrenia[2] dikaitkan dengan:
  • dua kali lipat risiko kematian akibat penyakit jantung
  • tiga kali risiko kematian akibat penyakit pernapasan.
Aktivitas fisik dalam bentuk apapun adalah cara yang bagus untuk membuat tubuh sehat secara fisik serta meningkatkan kesejahteraan mental. Penelitian menunjukkan bahwa melakukan latihan mempengaruhi pelepasan dan penyerapan bahan kimia merasa-baik yang disebut endorfin[3] di otak.

Jomblo keadaan fisik juga menyinggung penampilan fisiknya yang merasa diri "kurang" dari orang lain, merasa diri kurang baik atau percaya diri  karena standar fisik yang ada dalam benaknya. Faktor fisik dan psikis saling berkaitan satu dengan yang lain, untuk tipe jomblo seperti ini biasa mereka lakukan adalah berusaha memperbaiki tampilan fisik mereka untuk memulihkan kepercayaan diri mereka. Beberapa dari jomblo keadaan fisik sangat sensitif dengan topik pembicaraan fisik, namun hal tersebut dapat mengakibatkan dua kecenderungan dominan yang menunjukkan hidup kurang efektif, yaitu ia akan semakin berusaha memperbaiki tampilan fisiknya atau kemungkinan yang kedua adalah ia akan membenci dan menjauhi kumpulan orang yang membicarakan topik "sensitif" tersebut. Bagaimanapun jomblo fisik juga memerlukan orang lain untuk meningkatkan kepercayaan dirinya, tidak cukup hanya sekedar memperbaiki secara fisik dirinya sendiri, jomblo secara fisik secara mental mereka tidak menerima fisik mereka apa adanya, oleh karena itu dukungan orang-orang di sekelilingnya sangat ia butuhkan agar ia dapat menerima dirinya apa adanya tanpa menerapkan standar tinggi yang ia atau orang lain harapkan. Menerima keadaan fisik apa adanya jauh lebih membangun ketimbang berfokus hanya kepada "membenahi" tampilan fisik semata, lebih banyak kisah-kisah yang luarbiasa menginspirasi yang lahir dari "kekurangan atau keterbatasan" fisik seseorang dari pada kisah hidup yang dimiliki oleh seseorang yang mempunyai fisik sempurna. Beberapa diantaranya adalah Pencipta lagu yang buta Fanny Jane Crosby, Pianis Berjari Empat, Lee Hee-Ah, motivator Lizzie dan Nick Vujicic dan masih banyak lagi, kehidupan mereka tidak hanya menginspirasi banyak orang, namun juga menginspirasi dunia.


"Impian saya adalah membantu orang lain. Saya ingin membuat sebuah yayasan anti bullying (kekerasan dalam bentuk hinaan, fisik atau kekerasan). Agar anak-anak, orang dewasa dan remaja (yang menjadi korban bullying) bisa berjuang. Sejauh ini, mimpi saya telah menjadi kenyataan," 
 Lizzie.





[1]  Depresi adalah gangguan mental umum yang ditandai dengan kesedihan, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah, kesulitan berkonsentrasi, tidur terganggu, nafsu makan berubah dan energi rendah. Masalah ini dapat menjadi kronis atau berulang dan menyebabkan gangguan besar dalam kemampuan seseorang untuk menjalankan tanggung jawab sehari-hari. Pada kasus yang parah, depresi dapat menyebabkan bunuh diri. http://kamuskesehatan.com/arti/depresi/
[2]  Skizofrenia merupakan suatu gangguan kejiwaan kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak biasa (dikenal sebagai gejala psikotik). Karena gejala ini, orang dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mungkin menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar. Skizofrenia secara harfiah bukan berarti ‘jiwa yang terpisah’ (schizein = terpisah; phrenia = jiwa), tetapi orang dengan skizofrenia dapat melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang di sekitar mereka. Mereka bisa mendengar/melihat/menghidu (mencium bau)/merasakan hal yang tidak dialami oleh orang lain (halusinasi), misalnya mendengar suara (yang cenderung menjadi halusinasi yang paling umum). Mereka mungkin memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hal yang tidak benar (delusi), misalnya bahwa orang membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau berencana menyakiti mereka. Ketika dunia mereka kadang-kadang tampak menyimpang akibat halusinasi dan delusi, orang dengan skizofrenia dapat merasa takut, cemas dan bingung. Mereka bisa menjadi begitu kacau sehingga mereka dapat merasa takut sendiri dan juga dapat membuat orang di sekitar mereka takut. http://www.peduliskizofrenia.org/sumber-daya/tentang-skizofrenia
[3] Endorfin adalah zat biokimia yang dibuat oleh tubuh yang dapat membantu mengurangi tingkat rasa sakit. http://kamuskesehatan.com/arti/endorfin/


Banyak faktor yang mendukung timbulnya gangguan jiwa yang merupakan perpaduan dari beberapa aspek yang saling mendukung yang meliputi Biologis, psikologis, sosial, lingkungan (environmental). Tidak seperti pada penyakit jasmaniah, sebab-sebab gangguan jiwa adalah kompleks. Pada seseorang dapat terjadi penyebab satu atau beberapa faktor dan biasanya jarang berdiri sendiri. Mengetahui sebab-sebab gangguan jiwa penting untuk mencegah dan mengobatinya. Umumnya sebab-sebab gangguan jiwa dibedakan atas :
a. Sebab-sebab jasmaniah atau biologik
b. Sebab-sebab kejiwaan atau psikologik
c. Sebab-sebab yang berdasarkan kebudayaan.
Untuk mengetahui mana penyebab yang asli dan mana yang bukan perlu diketahui dua istilah, yaitu : sebab yang memberikan predisposisi adalah faktor yang menyebabkan seseorang menjadi rentan atau peka terhadap suatu gangguan jiwa (genetik, fisik atau latar belakang keluarga atau sosial). Sebab yang menimbulkan atau pencetus langsung adalah faktor traumatis langsung menyebabkan gangguan jiwa (kehilangan harta pekerjaan atau kematian, cendera berat, perceraian dan lain-lain. Masa remaja dikenal sebagai masa gawat dalam perkembangan kepribadian, sebagai masa “badai dan stres”. Dalam masa ini individu dihadapi dengan pertumbuhan yang cepat, perubahan-perubahan badaniah dan pematangan sexual. Pada waktu yang sama status sosialnya juga mengalami perubahan, bila dahulu ia sangat tergantung kepada orangtuanya atau orang lain, sekarang ia harus belajar berdiri sendiri dan bertanggung jawab yang membawa dengan sendirinya masalah pernikahan, pekerjaan dan status sosial umum. Kebebasan yang lebih besar membawa tanggung jawab yang lebih besar pula. Perubahan-perubahan ini mengakibatkan bawha ia harus mengubah konsep tentang diri sendiri. Tidak jarang terjadi “krisis identitas” (Erikson, 1950). Ia harus memantapkan dirinya sebagai seorang individu yang berkepribadian lepas dari keluarganya, ia harus menyelesaikan masalah pendidikan, pernikahan dan kehidupan dalam masyarakat. Bila ia tidak dibekali dengan pegangan hidup yang kuat, maka ia akan mengalami “difusi identitas”, yaitu ia bingung tentang “apakah sebenarnya ia ini” dan “untuk apakah hidup ini”. Sindroma ini disebut juga “anomi”, remaja itu merasa terombang ambing, terapung-apung dalam hidup  tanpa tujuan tertentu. Banyak remaja sebenarnya tidak membernontak, akan tetapi hanya sekedar sedang mencari arti dirinya sendiri serta pegangan hidup yang berarti bagi mereka. Hal “badai dan stres” bagi kaum remaja ini sebagian besar berakar pada struktur sosial suatu masyarakat. Ada masyarakat yang membantu para remaja ini dengan adat-istiadatnya sehingga masa remaja dilalui tanpa gangguan emosional yang berarti. Kebanyakan kebutuhan kita hanya dapat diperoleh melalui hubungan dengan orang-orang lain. Jadi cara kita berhubungan dengan orang lain sangat mempengaruhi kepuasan hidup kita. Kegagalan untuk mengadakan hubungan antar manusia yang baik mungkin berasal dari dan mengakibatkan juga kekurang partisipasi dalam kelompok dan kekurangan identifikasi dengan kelompok dan konformitas (persesuaian) yang berlebihan dengan norma-norma kelompok (seperti dalam “gang” atau perkumpulan-perkumpulan rahasia para remaja). Secara garis besar dapat dikatakan bahwa kemampuan utama dalam hidup dan dalam menyesuaikan diri memerlukan “penerapan” tentang beberapa masalah utama dalam hidup, seperti pernikahan, ke-orangtua-an, pekerjaan dan hari tua. Di samping kemampuan umum ini dalam bidang badaniah, emosional, sosial dan intelektual, kita memerlukan persiapan bagi masalah[1]

Menurut American Psychiatric Association (1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distress (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu. Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak (Djamaludin, 2001). Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang sebab-sebab terjadinya gangguan jiwa. Menurut pendapat Sigmund Freud dalam Maslim (2002), gangguan jiwa terjadi karena tidak dapat dimainkan tuntutan id (dorongan instinctive yang sifatnya seksual) dengan tuntutan super ego (tuntutan normal social). Orang ingin berbuat sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri, tetapi perbuatan tersebut akan mendapat celaan masyarakat. Konflik yang tidak terselesaikan antara keinginan diri dan tuntutan masyarakat ini akhirnya akan mengantarkan orang pada gangguan jiwa. Terjadinya gangguan jiwa dikarenakan orang tidak memuaskan macam-macam kebutuhan jiwa mereka. Beberapa contoh dari kebutuhan tersebut diantaranya adalah pertama kebutuhan untuk afiliasi, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan diterima oleh orang lain dalam kelompok. Kedua, kebutuhan untuk otonomi, yaitu ingin bebas dari pengaruh orang lain. Ketiga, kebutuhan untuk berprestasi, yang muncul dalam keinginan untuk sukses mengerjakan sesuatu dan lain-lain. Ada lagi pendapat Alfred Adler yang mengungkapkan bahwa terjadinya gangguan jiwa disebabkan oleh tekanan dari perasaan rendah diri (infioryty complex) yang berlebih-lebihan. Sebab-sebab timbulnya rendah diri adalah kegagalan di dalam mencapai superioritas di dalam hidup. Kegagalan yang terus-menerus ini akan menyebabkan kecemasan dan ketegangan emosi. Dari berbagai pendapat mengenai penyebab terjadinya gangguan jiwa seperti yang dikemukakan diatas disimpulkan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh karena ketidak mampuan manusia untuk mengatasi konflik dalam diri, tidak terpenuhinya kebutuhan hidup, perasaan kurang diperhatikan (kurang dicintai) dan perasaan rendah diri. (Djamaludin dan Kartini, 2001).[2]

Pribadi yang termasuk jomblo psikis adalah jomblo diakibatkan sikap obsessive, traumatik terhadap sesuatu dan seterusnya, jomblo psikis bisa juga dapat terbentuk karena faktor tumbuh dari  keluarga yang kurang harmonis. Jomblo psikis dapat juga memuat tipe jomblo lain yaitu jomblo main-main. Jomblo main-main adalah seorang yang mengaku diri jomblo namun untuk mengisi hari-harinya, ia membangun hubungan tanpa status dengan lawan jenis satu atau lebih, atau bisa juga membangun hubungan lawan jenis kepada seorang yang sama atau berbeda-beda. Faktor jomblo main-main dapat juga disebabkan oleh gangguan psikis karena trauma atau disebabkan pengaruh pergaulan yang buruk atau trauma terhadap hubungannya dengan orang lain dimasa lampau. Rata-rata jomblo tipe seperti ini tidak mempunyai komitmen atau ikatan batin atau perasaan cinta yang kuat terhadap lawan jenis, semua hubungan yang ia jalin kepada orang lain adalah main-main atau tidak serius, namun memungkinkan terjalinya hubungan “main-main” tersebut tidak jarang menuai dampak sangat serius.


Jomblo Psikis: seorang yang tidak tidak punya kekasih (belum mempunyai pengalaman asmara dengan orang lain sama sekali) disebabkan oleh gangguan kejiwaan karena faktor tertentu. Sedangkan pengertian psikis sendiri adalah jiwa. Fisik dan psikis merupakan satu kesatuan yang seharusnya diselaraskan disetiap fungsinya.[1] Penyakit mental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan keluarganya). Penyakit mental dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial-ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi. Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan lingkungan. Pengertian seseorang tentang penyakit gangguan jiwa berasal dari apa yang diyakini sebagai faktor penyebabnya yang berhubungan dengan biopsikososial (Stuart & Sundeen, 1998). Salah satu upaya penting dalam penyembuhan dan pencegahan kekambuhan kembali adalah dengan adanya dukungan keluarga yang baik. Keluarga merupakan sumber bantuan terpenting bagi anggota keluarga yang sakit, keluarga sebagai sebuah lingkungan yang penting dari pasien, yang kemudian menjadi sumber dukungan sosial yang penting. Menurut Friedman (1998) dukungan sosial dapat melemahkan dampak stress dan secara langsung memperkokoh kesehatan jiwa individual dan keluarga, dukungan sosial merupakan strategi koping penting untuk dimiliki keluarga saat mengalami stress. Sedang strategi Coping sendiri  berasal dari kata “Cope“ yang berarti lawan, mengatasi menurut Sarafino (dalam Smet 1994). Dukungan sosial keluarga juga dapat berfungsi sebagai strategi preventif untuk mengurangi stress dan konsekwensi negatifnya. Penderita gangguan jiwa sering mendapat stigma dan diskriminasi yang lebih besar dari masyarakat di sekitarnya bahkan dalam beberapa kasus oleh keluarganya sendiri. Mereka sering mendapat perlakuan yang tidak manusiawi seperti perlakuan keras. Perlakuan ini disebabkan ketidaktahuan atau pengertian yang salah dari keluarga atau anggota masyarakat. Hal inilah yang biasanya menyebabkan penderita gangguan jiwa untuk sulit sembuh dan sering kambuh kembali (Stuart dan Laraia, 2001).[2] Studi Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1995 di beberapa negara menunjukkan bahwa hari-hari produktif 'yang hilang atau Dissability Adjusted Life Years (DALY's) sebesar 8,1% dari Global Burden of Disease, disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa. Angka ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan penyakit Tuberculosis(7,2%), Kanker(5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%). Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada dimasyarakat.[3] Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2001). Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan (volition), emosi (affective), tindakan (psychomotor) (Yosep, 2007). Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Menurut Townsend (1996) mental illness adalah respon maladaptive[4] terhadap stressor dari lingkungan dalam atau luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi sosial, kerja, dan fisik individu.


[4] Perilaku mal-adaptif adalah perbuatan dari individu yang tidak mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan keadaan sekeliling secara wajar. Misalnya yang bersangkutan memperlihatkan ketakutan, kecurigaan (paraoid), gangguan menilai realitas, gangguan dalam fungsi sosial dan pekerjaan. Perilaku maladaptif ini sering meninbulkan konflik, pertengkaran, tindak kekerasan dan perilaku antisosial lainnya terhadap orang-orang di sekelilingnya (Dadang Aswari;2007 dalam Wawasan Digitalmedia 3 Oktober 2007).


Menurut Jenis dan Alasan Jomblo
Penulis tidak menemukan refrensi empiris atau sumber ilmiah yang jelas mengenai jenis dan alasan jomblo, namun berdasarkan observasi penulis serta didapatkan juga dari pengalaman orang lain dan pengalaman pribadi penulis sendiri, maka diformulasikan oleh penulis alasan jomblo terdiri dari empat jenis. Keempat jenis jomblo tersebut yaitu, jomblo prinsip, jomblo psikis, jomblo keadaan fisik dan jomblo pengalaman hidup. Keempat jenis jomblo dijelaskan sebagai berikut, yaitu:

Jomblo Prinsip: Seseorang yang tidak tidak punya kekasih (belum mempunyai pengalaman asmara dengan orang lain sama sekali), hal ini disebabkan oleh karena memegang teguh prinsip yang diyakini untuk dapat menerima orang lain dalam kehidupannya. Sedangkan prinsip sendiri adalah asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya); dasar.[1] Atau prinsip adalah sebuah kebenaran yang mendasar atau proposisi yang berfungsi sebagai dasar bagi sistem kepercayaan atau perilaku atau rantai penalaran.[2] Pribadi yang termasuk joblo prinsip ialah jomblo karena faktor kepercayaan diri seperti minder atau sebaliknya, over percaya diri. Bentuk dari prinsip merupakan kepercayaan diri, kita semua memiliki kebutuhan untuk kepastian, dan kepercayaan diri adalah tanda lahiriah dari kepastian batin. Dengan memberikan kepercayaan orang lain, maka berarti memenuhi kebutuhan ini di dalamnya. Keyakinan dimulai dengan diri sendiri. Jika seseorang memiliki suara harga diri dan kepercayaan diri yang kuat, maka itu semua secara alami akan muncul pada diri orang tersebut lakukan. Namun keyakinan yang over dapat memunculkan sikap ataupun kesan arogansi. Jomblo dengan tipe seperti ini mudah menonjolkan diri sendiri, banyak bicara dan sulit untuk rendah hati bahkan hanya untuk memberikan pujian atau mengakui kelebihan orang lain. 

Demikian pula sebaliknya terjadi bagi jomblo prinsip karena minder, ia sangat yakin bahwa dirinya lebih banyak mempunyai kekurangan atau kelemahan dibanding orang lain, baik itu karena faktor fisik, ekonomi dan lain sebagainya. Jomblo karena minder lebih cenderung menutup diri, tidak banyak berbicara, sensitif terhadap perkataan dan perbuatan orang lain dan selalu menilai orang lain lebih daripadanya. Jomblo bertipe seperti ini tidak mempunyai kepercayaan diri yang teguh, sifatnya menyulitkan dirinya sendiri untuk membangun hubungan dengan orang lain yang lebih luas, namun disisi lain ia merasa "aman dan nyaman" karena ia tidak merasa "terancam atau terintimidasi" akibat pergaulan yang kebablasan.

Jomblo prinsip juga dapat memuat tipe jomblo selibat atau jomblo anugrah, yaitu seorang mendedikasikan hidupnya kepada sesuatu tujuan rohani sehingga ia dengan rela hati jomblo seumur hidup atau tidak membangun hubungan asmara bahkan tidak menikah dengan siapapun seumur hidupnya, atau dengan arti lain selibat adalah sebuah pilihan hidup yang bersumber dari suatu pandangan atau pemikiran tertentu yang memutuskan sang pribadi untuk memilih hidup tanpa menikah. Tipe jomblo seperti ini rata-rata dengan tekun dan taat melakukan ibadahnya serta mendedikasikan hidupnya kepada Tuhan dalam bentuk melayani sesama. Ia tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, namun jutru ia memikirkan dan mendahulukan kepentingan orang lain.


Sejarah dari jomblo atau sigle dengan legenda yang mendunia agaknya jarang didengar, namun kisah nyata yang satu ini dikenal diseluruh dunia. Kisah pribadi jomblo dalam kesendirian dan ia tidak dapat menemukan orang lain untuk menjadi teman yang sepadan dan memperlengkapi hidupnya, hingga ia memintanya kepada Tuhan, ya dialah Adam, manusia pertama dimuka bumi. Pada Kitab Kejadian yang ditulis oleh Musa pada lebih dari Tahun 1,450 SM menjelaskan bahwa kisah Adam, yang awalnya tidak mempunyai teman sepadan dengannya, pada akhirnya ia memperoleh Hawa untuk menjadi pasangan hidupnya karena pertolongan Tuhan. Singkat cerita karena kejatuhanya kedalam dosa, maka Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, meski demikian mereka tetap menjalani hidup untuk menjalankan Perintah Tuhan, yaitu "Beranakcuculah dan bertambah  banyak ; penuhilah bumi   dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. "

Manusia dicipta berpasang-pasangan, namun ada juga yang sampai pada akhir hayatpun, ia juga tak kunjung menikah atau mempunyai pasangan. Rasul Paulus dalam Alkitab juga mencerminkan bahwa hidup jomblo atapun sigle juga tetap efektif bahkan terlebih dari itu, karena hidupnya senantiasa dapat terfokus kepada tujuan tanpa ada bercabangnya pemikiran. Beberapa tokoh besar yang sigle membuktikan karyanya dikancah dunia, salah satunya yaitu Gregor Johann Mendel  adalah ilmuwan dan biarawan Augustinian berbahasa Jerman Silesian yang meraih ketenaran anumerta sebagai pendiri  ilmu baru dari genetika hingga karyanya dapat menjadi warisan dunia hingga sekarang dengan Teori Mendelnya.

Berdasar fakta sejarah diatas mengajarkan kepada kita bahwa baik jomblo mapun non-jomblo, keduanya dapat menjalani kehidupan efektif. Hidup sendiri bukanlah kiamat namun hidup sendiri adalah anugrah, sebab tidak ada seorangpun yang sanggup hidup sendiri jika ia sendiri tidak diberi anugrah tersebut oleh Tuhan. Hidup sendiri berarti melatih diri untuk lebih kuat serta mandiri dalam menjalani kehidupan, hasil dari itu adalah mental yang kuat karena proses menjalani hidup sendiri.  Hidup sendiri juga berarti menanti cinta (pasangan hidup) yang terbaik, kelak dimana anda akan bertemu dengannya, dimana ia akan menjadi pelengkap hidup anda. 


Meski banyak manusia yang mengalami jomblo dan mungkin telah menjadi pribadi jomblo, namun secara literatur buku dan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak terdapat definisi kata jomblo, karena itu berdasarkan observasi penulis mendefinisikan kata jomblo dengan singkat,  jomblo adalah seseorang yang tidak mempunyai kekasih. Apapun alasan dibalik status jomblo yang disematkan kepada seseorang, satu alasan pasti, yaitu seorang yang disebut jomblo adalah seorang yang tidak mempunyai kekasih atau pasangan atau pacar. Beberapa orang membedakan dalam mendefinisikan pengertian jomblo dan single. Perbedaanya jomblo berkonotasi (-) negatif karena faktor nasib, jadi seorang dikatakan jomblo apabila ia "tidak laku" atau belum ada satupun yang mau berhubungan dengan orang tersebut. Sedang single berkonotasi (+) karena pilihan atau prinsipnya, jadi seorang dikatakan single karena pilihan atau prinsip atau idealismemenya. Selepas anggapan tersebut entah cenderung berkonotasi positif ataupun negatif, menurut pendapat penulis kedua istilah tersebut adalah sama artinya, hanya saja dalam perkembangan zaman maka beberapa orang membeda-bedakannya dan memberikan stigma posotif dan negatif serta tanggapan yang berbeda-beda. Namun jika anda adalah seorang jomblo tulen atau baru saja putus hubungan dengan kekasih yang dirundung kegalauan hebat, maka jangan berkecil hati dulu dan meratapi kemalangan hidup asmara anda, Prixie menuliskan dalam catatan kecilnya sebagai berikut "Single atau jomblo bukanlah status, itu adalah sebuah kata yang menggambarkan seseorang yang cukup kuat untuk hidup dan menikmati hidup tanpa tergantung pada orang lain."  dan sedikit puisi dari sebuah artikel
I choose to be single
So I can let go
Of the hurt and pain
That stopped my life’s flow
My solitude is my strength
And not my sorrow
Being single today is better
Than being sorry tomorrow

Dalam Bahasa Indonesia
Saya memilih untuk menjadi lajang
Jadi saya merelakan
Dari sakit dan penderitaan
Itu menghentikan arus hidup saya
Kesendirian saya adalah kekuatanku
Dan bukan kesedihanku
Menjadi lajang hari ini lebih baik
Daripada menjadi penyesalan di masa depan

Setidaknya catatan kecil Prixie dan sedikit puisi diatas meneguhkan hati anda. Justru dalam masa sendiri, anda akan menemukan cinta sejati yang sedang menanti


Tema jomblo tidak akan pernah lekang oleh perubahan zaman, tiap generasi serta manusia dipelbagai belahan dunia pernah mengalaminya. Sebagaimana adanya manusia saling mencintai, jomblo dapat menjadi kemungkinan dari gagalnya hubungan cinta. Selama dunia ini masih ada, kisah mengenai cinta tidak mati, maka demikian juga kisah mengenai jomblo juga takkan pernah mati.  Kitab jomblo ini ditujukan bagi pribadi-pribadi atau manusia jomblo, disemua kalangan dan disemua kasta ekonomi.